Bendara dan Yudanegara Kenakan Paes Ageng Saat Panggih | Prosesi Pernikahan Putri Keraton Yogyakarta

Bendara dan Yudanegara Kenakan Paes Ageng Saat Panggih | Prosesi Pernikahan Putri Keraton Yogyakarta. Pasangan pengantin Gusti Kanjeng Ratu Bendara dan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara mengenakan busana tradisional Yogyakarta Paes Ageng saat menjalani prosesi panggih (temu) di Bangsal Kencana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Selasa (18/10).
Pengantin putri yang merupakan anak bungsu Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X mengenakan busana berupa kampuh (dodot) batik bermotif semen raja berwarna hijau dan ungu keemasan.

Kain kampuh itu dilapisi kain batik cinde merah dengan sanggul yang dihias untaian melati dan bunga. Busana itu dilengkapi sejumlah perhiasan berupa kalung, gelang, cincin, dan anting.

Pengantin putra KPH Yudanegara juga mengenakan kain kampuh serupa dan celana batik cinde merah dengan memakai kuluk (topi) putih serta memakai sejumlah perhiasan berupa kalung, anting, gelang, dan cincin.

Prosesi panggih pengantin diawali dengan tari edan-edanan yang dibawakan tiga penari sebagai simbol tolak bala diiringi rombongan abdi dalem Keparak yang membawa kembar mayang dan pisang sanggan.

Selanjutnya, pengantin putra KPH Yudanegara didampingi GBPH Suryodiningrat dan GBPH Suryomentaram datang di Bangsal Kencana dari Kasatriyan. Mereka diiringi KGPH Hadiwinoto, GBPH Prabukusumo, dan GBPH Yudhaningrat.

Pengantin putra berbusana Paes Ageng dengan kuluk (topi) putih bersama pendamping berdiri di emper Bangsal Kencana menunggu kehadiran pengantin putri GKR Bendara dari Sekar Kedhaton.

Beberapa saat kemudian pengantin putri yang berbusana Paes Ageng dengan sanggul dihias untaian melati dan bunga hadir didampingi BRAy Suryodiningrat dan BRAy Suryomentaram diiringi GKR Pembayun, GKR Condro Kirono, GKR Maduretno, dan GRAj Nur Abra Juwita.

Upacara panggih dimulai dengan lempar sirih. Pengantin putra dan putri saling melempar sirih sebagai simbol bersatunya hati.

Prosesi dilanjutkan dengan pengantin putri GKR Bendara membasuh kaki pengantin putra KPH Yudanegara sebagai simbol kesetiaan seorang istri kepada suami.

Selanjutnya prosesi pondongan, pengantin putra KPH Yudanegara dibantu GBPH Suryodonindrat memondong pengantin putri GKR Bendara sebagai wujud tanggung jawab suami kepada istri.

Setelah pondongan, pengantin putri dan putra kemudian berjalan menuju pelaminan di Tratag Bangsal Prabayeksa diiringi Sultan dan GKR Hemas serta orang tua KPH Yudanegara untuk menerima ucapan selamat dari para tamu.

Prosesi dilanjutkan dengan dhahar klimah, pengantin putra KPH Yudanegara mengambil nasi kemudian dikepel dan diletakkan di piring pengantin putri GKR Bendara. Nasi yang telah dikepel itu kemudian dimakan oleh GKR Bendara.

Menurut Koordinator Penyelenggara Pernikahan GKR Bendara-KPH Yudanegara, KRT Yudahadiningrat, upacara panggih adalah bertemunya pengantin putra dan pengantin putri setelah resmi melakukan akad nikah.

"Upacara panggih merupakan simbolisasi yang mengibaratkan sebuah pertemuan sakral dalam sebuah ikatan perkawinan. Pasangan pengantin dipertemukan dalam sebuah rangkaian lengkap yang sarat makna, agar dalam setiap tahap kehidupan keluarga kelak memperoleh jalan terbaik," katanya.

Setelah panggih, prosesi pernikahan GKR Bendara dengan KPH Yudanegara akan dilanjutkan dengan kirab pengantin dan resepsi pernikahan di Kepatihan.


Media Indonesia

Bendara dan Yudanegara Kenakan Paes Ageng Saat Panggih, Prosesi Pernikahan Putri Keraton Yogyakarta, Pasangan Pengantin Gusti Kanjeng Ratu Bendara dan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara Mengenakan Busana Tradisional Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Bendara Merupakan Putri kelima Sri Sultan Hamengkubuwono X, Prosesi Panggih Pengantin Diawali dengan Tari Edan-edanan, Suasana Prosesi Panggih, Upacara Panggih adalah Bertemunya Pengantin Putra dan Pengantin Putri Setelah Resmi Melakukan Akad Nikah


Category Article

What's on Your Mind...